jump to navigation

Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)

Anak-Anak Cemerlang Itu

Posted in Kolom , trackback

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin, 25 Agustus 2003

Anak-anak muda itu. Ketika terlihat langkah mereka di televisi yang tegap dan rapi mengawal Bendera Pusaka untuk dikibarkan, tiba-tiba saya diharu-biru oleh rasa terharu. Wajah mereka tampan dan cantik bukan karena polesan bedak dan gincu yang berlebihan, tetapi karena sinar kepintaran dan keyakinan diri.

Dulu, saya sempat bercita-cita menginjak istana presiden sebagai Pengibar Bendera Pusaka. Sayang, sekolah swasta tempat saya belajar, kendati menempati peringkat cukup tinggi di kota Bandung, tidak aktif melibatkan siswa-siswanya untuk bersaing ke arah itu.

Tetapi, saya sempat menginjak Istana Negara sebagai penari tradisional untuk jamuan makan menyambut tamu-tamu negara.

Ketika itu, usia saya masih belasan dan yang berkuasa masih rezim Suharto. Saya menari Sunda bersama grup Irawati Durban. Tidak seperti jika tengah pentas di festival-festival tari, kali pertama saya sadar mata-mata orang-orang terpenting di negeri ini tertuju ke panggung, kaki saya tiba-tiba seperti mau lumpuh. Mungkin panik. Tetapi tentu juga bangga. Padahal, itu baru menjadi penari istana.

Menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Merdeka tentu merupakan salah satu prestasi paling prestisius yang bisa diraih oleh seorang siswa, karena mereka biasanya dipilih dari siswa-siswa berprestasi terbaik dan tersehat di tingkat provinsi. Bisa dibayangkan kebanggaan dan kesyukuran mereka yang begitu tulus, yang membuat semua orang Indonesia yang melihatnya turut bangga.

Lalu, saya teringat pembicaraan saya semasa mahasiswa dengan seorang teman perempuan yang beruntung berkesempatan menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Ketika itu, represi terhadap partisipasi mahasiswa di bawah rezim Soeharto sedang keras-kerasnya berlangsung. Ditanya tentang pengalamannya menjadi siswa terpilih itu, ia pun antusias berkata, “Menjadi anggota Paskibraka? Rasanya sulit dilukiskan.

Saya menangis di hadapan Bendera Pusaka. Dalam hati saya berjanji bahwa saya akan berusaha memberikan yang terbaik bagi negara kita ini. Dan hingga kini, janji itu tetap tertanam ….”

Tetapi matanya lantas meredup. “Tetapi, konyol deh mengenang kebanggaan saya bertemu dengan Kepala Negara ….” “Mengapa? ” selidik saya. “Ada yang kamu tahu lebih banyak tentang rezim Soeharto? Bukankah kamu terlalu sibuk kuliah?”

“Saya memang mengejar IPK. Tetapi saya pernah baca buku kecil tentang jaringan korupsi Soeharto yang diedarkan secara gelap itu juga. Semua tahu. Kamu sendiri berjilbab dan nggak menari lagi di Istana Negara karena apa?”

Dan kemurungan menyergap.

“… karena saya tidak bisa tersenyum tulus ketika sehabis menari, saya menerima bunga dari Soeharto. Rasanya munafik. Saya mencintai negara ini sepertimu, tetapi untuk itu seharusnya saya membuang muka dari Soeharto, bukan sebagai manusia, tetapi sebagai kepala negara yang korup.”

Dan saya tidak pernah melupakan pembicaraan itu; ketika malam sedang tanpa bulan dan kelam seperti menyaput semua harapan secara tanpa hak. Dan kini? Anak-anak cemerlang itu. Lambat atau cepat mereka pun akan bertemu langsung dengan realitas Indonesia yang mereka cintai ini, yang ternyata amat menyesakkan: kemiskinan, ketiadaan lapangan pekerjaan, kelemahan penegakan hukum, korupsi tanpa henti, hingga terorisme di mana-mana.

Mungkinkah mereka pun akan menanggung kedukaan panjang yang tidak mereka kira sebelumnya? Bahwa di tanah air kita ini, kelicikan kancil sering lebih berguna daripada kesetiaan dan kebebasan merpati? Air mata saya jatuh, sungguh, karena mengkhawatirkan mereka.

Comments»

1. Paskibra Riau - Wed, 20 Aug 2008

BRAVO PASKIBRAKA INDONESIA

PEGANG TEGUH IKRAR PUTRA INDONESIA KITA

TERUS PERJUANGANMU BUNG

2. didit_fitriawan - Mon, 25 Aug 2008

Salam kenal ya dati ITS Surabaya…

:smile:



Copy Protected by WP-CopyProtect Thanks to Chetan.