Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Air Mata Agung
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 12 Agustus 2002
Dalam kultur mana pun, menangis, terutama jika dilakukan oleh orang dewasa, adalah ekspresi negatif yang kurang bisa diterima bila dibandingkan dengan untaian kata yang baik, teratur, dan terjaga. Ancaman stigma anak cengeng menghalangi seorang anak untuk secara impulsif mengutarakan keletihan atau kekecewaannya dengan air mata. Air mata memang selalu dididikkan untuk tidak bernilai umum atau murah. Konon, ada masyarakat etnik tertentu di Amerika Selatan yang bahkan melarang air mata menetes sekali pun dalam upacara kematian sanak-keluarganya.
Tetapi, tidak ada yang menolak bahwa salah satu keindahan tertinggi dari kehidupan beragama adalah justru ketika seseorang telah bisa menangis karena Tuhan. Beberapa tradisi spiritual penyucian diri seringkali mendorong orang-orang yang terlibat justru untuk menangis. Kelembutan hati ditakar dengan kemudahan untuk menyesali kesalahan dan kelemahan-kelemahan masa lalu sampai berurai air mata karena air mata dianggap sebagai tanda keterlibatan seluruh perasaan. Konsekuensi logisnya, hanya orang-orang yang keras hatinyalah yang tidak peka oleh hadirnya kebenaran di dalam hati, yang kehilangan rasa terancam atau bahkan lupa semua gelap perbuatannya hingga sulit baginya untuk menangis. Karenanya, berbagai upacara hingga pengkondisian psikis seringkali diadakan untuk menemukan air mata ini.
Saya tidak tahu apakah pengkondisian itu kemudian dapat menjadikan semua pesertanya menjadi anggota yang cukup kompeten lagi sadar dari pergelaran agung tasbih alam kepada Khaliknya, yang biasanya hanya diketahui oleh-Nya dan para malaikat. Minimal, jika seseorang sudah dapat lebih rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya lemah di hadapan-Nya, entah karena rekayasa puisi, ruangan yang lampunya dimatikan, atau lagu-lagu religius, upaya kultural sudah dilakukan untuk menghadirkan permisalan dari indahnya menangis hanya kepada-Nya. Tetapi, air mata yang bernilai paling tinggi kepada-Nya sudah tentu hanya bisa ditemukan melalui benturan-benturan dengan kenyataan sebenarnya, yang tidak direkayasa untuk maksud itu, apalagi diduga.
Bagi orang-orang dewasa, menangis kepada-Nya bukan persoalan mudah. Saya mudah menangis. Menjadi orang tua tunggal sambil tugas belajar di kota mahal yang jauh dari tanah air, hanya berbekal beasiswa, hidup di antara penduduk yang mayoritasnya bukan muslim, membuat air mata mengalir begitu mudah. Tetapi, semua itu tidak serta-merta mengantarkan saya kepada indahnya rasa menangis kepada-Nya.
Padahal, jika menangis karena persoalan-persoalan fana hanya menyisakan keletihan, menangis kepada-Nya menjanjikan transformasi. Pernah, saya dibuat iri oleh seorang santriwati di pesantren sederhana di pinggiran kota Tasikmalaya yang gemar berzikir. Suatu kali, saya menemukan ia beristigfar panjang hingga tubuhnya terguncang-guncang. Seorang kawannya sampai memeluknya dari belakang. Ia pun lunglai sejenak, lalu sujud. Ketika bangun, wajahnya memang tampak pucat. Tetapi, pucatnya adalah pucat putih bening seperti cahaya mutiara. Ketika bibirnya terus menggumamkan nama-Nya, ia sendiri mungkin tidak sadar betapa kuatnya ia bersandar hanya kepada-Nya.
Air mata seperti itu sungguh sebuah anugerah. Jika di berbagai TPA, anak-anak diajarkan untuk menghafal berbagai doa, tentu itu belum menjamin bahwa kelak, mereka akan menjadi ahli munajat yang demikian tegar di hadapan manusia, tetapi begitu rapuh bersimbah air mata ketika berhadapan dengan-Nya.
Air mata agung itu, bagaimana menemukan dan mengajarkannya? ***

Comments»
Bolehkah seorang laki-laki menangis?
Tapi, bukankah air mata khusus diberikan pada wanita ?
Aku malu,
Tangisku bukan tangis agung
Bukan tangis Rasul, Umar ataupun Khalid
Tangisku sederhana,
Tangis manusia biasa yang diam
Tak bergerak, di depan sebuah tangis suci
Bolehkah seorang laki-laki menangis?
man are not made from iron, as women made from clay so with man…thus if women may cry when she feels sad, why shoud’t man? there are two blessings that God gives to us in order to make us feel better in time of stress, difficulties or happiness, blessing to laugh when we are happy and tears tears to drop when we are sad. When my baby girl was born..she was cry aloud…so loud and when my baby boy was born he did the same thing…so what hinderence the man to cry? culture, stigma in particular society, or what? as a male..I some times cry…and that’s help me a lot to reduce my sadness, fear, worry, and feling of uncertainty in life and that’s make me able to walk still till today…