Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Sebuah Penemuan Hati
Posted in Kolom , 9 commentsMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 27 Mei 2002
Telah terpisahkan oleh benua yang berbeda, perempuan itu justru menerima sepucuk surat elektronik yang membuat hatinya telak terhenyak.
Surat cintakah yang diterimanya? Yang jelas, berbincang itu pasti sesuatu yang biasa. Saling mengerti adalah keindahan yang juga dapat ditemukan dalam banyak hubungan. Bagaimana dengan saling mengerti yang dalam? Mungkin itu cinta. Tetapi penulis cerita anak Antoine de Saint-Exupery menyatakan bahwa cinta tidak terdapat dalam keadaan ketika kedua pihak sama persis atau selalu bersama, tetapi ketika keduanya memiliki pandangan keluar dengan cara yang sama karena kesamaan tujuan.
Menutupi Rambut
Posted in Kolom , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 24 Juni 2002
Suatu ketika, dalam sebuah undangan makan siang sebuah perguruan tinggi asing, saya terlibat dalam perbincangan kritis dengan seorang Cekoslovakia yang mempertanyakan kebiasaan saya yang selalu mengenakan penutup rambut di hadapan umum. Stigma irasionalitas Islam tampaknya membuat kawan yang satu ini sudah didera duluan oleh prasangka buruknya sendiri.
Pengakuan
Posted in Kolom , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Resonasi, Republika, Senin, 15 Juli 2002
Di atas meja, tergeletak sepucuk surat. Memang hanya surat, yang mungkin diletakkan oleh merpati pos nyasar. Di atasnya tidak ada prangko ataupun kolom notifikasi pengiriman. Ia unik karena misterius. Saya tidak tahu persis apakah saya mengenal betul pengirimnya atau tidak. Tetapi, membaca surat itu tidak hanya membuat saya merasa membaca. ” … Kukirim surat ini dari seberang benua, dari seberang logika dan pembenaran, dan dari seberang pemahaman.
Bersendiri
Posted in Kolom , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 14 Januari 2002
Suatu malam, dalam dialog imajinernya, seorang murid menyatakan kepada gurunya bahwa ia baru saja sampai pada titik esensial femininitasnya. Titik itu didapatnya setelah serangkaian dialog yang dilakukannya, dengan pepohonan, jalanan, dan akhirnya dinding-dinding di dalam hatinya sendiri. Bukan, ia bukan tidak punya kawan. Ia sebetulnya memiliki banyak teman dan saudara, yang selalu siap menawarkan jasa yang murni berdasarkan hubungan yang tulus, atau paling tidak, hubungan saling menguntungkan, yang selama ini telah terbangun. Tetapi, yang tidak dimilikinya hanya satu, pasangan hati.
Doa Malam
Posted in Puisi , 3 commentsMiranda Risang Ayu
Malam-malam begini
semua akan segera tidur tetapi jagakan aku, Tuhanku
Jagakan aku.
Karena malam-malam begini
adalah kenyataanku
(more…)
Sukses
Posted in Kolom , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 30 September 2002
Kebanyakan orang, secara wajar, mengalokasikan umur untuk mencapai standar-standar kesuksesan yang juga masuk akal, dengan peta-peta masa depan yang telah ditetapkan oleh masyarakat dan terukur. Sebagian orang bersekolah tinggi hingga mendapat pekerjaan yang layak, menunjukkan loyalitas kerja hingga mendapat kedudukan, dan mempertahankan integritas profesional, sehingga menjadi aset unggul bagi institusi tempatnya bekerja, sambil tentu saja: mendapat status sosial yang terpandang.
Merasakan Perang
Posted in Kolom , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 31 Maret 2003
Saya tidak menonton konser musik Slank di Bandung, tetapi terkena macet karenanya. Konser itu konon menggaungkan seruan perdamaian. Beberapa hari kemudian ada perhelatan besar antarpenyair di Tasikmalaya. Saya juga tidak sempat hadir, tetapi saya kira, pasti ada satu dua puisi yang menangisi invasi Amerika atas Irak.
