jump to navigation

Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!

Mencari Senyum Tuhan
Catatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah


Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)

Di Dalam Tuhan

Posted in Kolom , 2 comments

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 9 September 2002

Jika badan saya pegal-linu karena kurang tidur atau gagal menghindar dari angin awal musim semi Australia yang terkenal temperamental, saya sering merindukan perempuan tua itu. Ia tukang pijat kampung di kota kecil Tasikmalaya yang tinggal di gubuk. Ia tanpa mencantumkan tarif, tetapi selalu mengawali dan mengakhiri kerjanya dengan doa bagi kesembuhan orang yang dipijatnya.

(more…)

Integritas

Posted in Kolom , add a comment

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 2 Juni 2003

“Kamu mau minum apa?” tanyanya dengan mata coklat mudanya yang bersinar ramah. Udara sore musim gugur Australia yang dingin membuat kantuk datang lebih awal. Para peserta pelatihan hak asasi manusia dari Indonesia itu pun sudah masuk semua ke kamar masing-masing. Tetapi, tampaknya, ahli hukum Australia itu ingin agar saya tidak hanya datang ke mejanya untuk menyerahkan kuitansi ongkos taksi. Saya memang sedang bekerja untuknya. Maka, saya pun minta dipesankan segelas minuman tanpa alkohol.

(more…)

Yang Pasti

Posted in Kolom , add a comment

Miranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 21 Oktober 2002

Saya bukan ahli hukum Islam. Tetapi, yang saya tahu, secara umum, salah satu cara mencapai keadilan adalah dengan adanya kepastian hukum. Dalam konteks ini, ahli hukum Islam Australia, Jamila Hussein, menyimpulkan bahwa dalam beberapa aspek, hukum Islam memiliki kelebihan justru karena dilindungi dari perubahan yang mendasar. Ia lebih menjamin kepastian hukum, dan karenanya, adil.

(more…)

Rasa Rahim

Posted in Kolom , add a comment

Miranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 3 Nopember 2003

Sebuah legenda filosofis menyatakan bahwa seorang bayi hakikatnya lahir dan menangis lantaran terpisah dari pelukan rahim. Seorang manusia lahir tidak hanya membawa hak-hak asasinya yang tidak bisa diganggu-gugat untuk hidup dan mencapai kebahagiaan, tetapi juga membawa dukanya yang pertama.Dan duka itu menjadi kawannya. Sekudus apa pun tidurnya, tetap saja, ketika seorang bayi merasa basah, kedinginan, kesepian, atau tidak enak badan, ia akan menangis. Bayi memang tidak perlu diajari untuk bisa menangis. Manusia tampaknya juga tidak perlu bersekolah untuk bersedih, tetapi ia perlu belajar dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dan mencapai kebahagiaan. Hidup ini memang dibayangi kemurungan, tetapi arti hidup adalah untuk mencerahkannya.Jadi, adalah natural bahwa tidak ada seorang pun yang mau hidup hanya untuk memperbesar kedukaannya. Tuhan tampaknya juga tidak mau membuat kehidupan hanya bermakna absurd karena makhluk sasaran pandangannya itu hanya diciptakan untuk menghabiskan umurnya berlari menghambur ke dalam kemurungan tanpa ujung, dan mati sia-sia.

(more…)