Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)
Di Keriuhan Air
Posted in Puisi , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Pikiran Rakyat, Kamis 17 April 2003
Sebentar aku tetirah di
keriuhan air yang mengalir
dari lubuknya.
Sebentar aku berbincang dengan
deru sungai yang semula kukira
hanya kesenyapan
setelah kupaksa dia
untuk menggambarkan
impianku tentang diri.
(more…)
Sebuah Berita Kegagalan
Posted in Kolom , add a commentMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 23 Desember 2002
Kabarnya, menteri luar negeri Australia baru saja berusaha meyakinkan prasangka baiknya terhadap Islam. Ia telah menyatakan jaminannya terhadap aktivitas kaum Muslim di negaranya dan sikapnya untuk tidak mengidentikkan Islam dengan terorisme. Sayangnya, dalam hitungan hari setelahnya, sebuah surat kabar terkemuka Australia, Sydney Morning Herald mengangkat sebuah pemberitaan hangat yang, entah benar atau tidak, mengabarkan bahwa di dalam rumah seorang penduduk Sydney yang ” … menurut tetangganya, mempraktikkan Islam … “, telah ditemukan bom.
Ningrat Baru Penulis Perempuan Indonesia
Posted in Kolom , add a commentMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 03 Maret 2003
Selamat kepada lahirnya kelompok baru perempuan penulis Indonesia, seperti tertulis di Kompas 23 Februari 2003. Ayu Utami memang fenomenal. Dewi Lestari juga. Dalam novel Samannya, Ayu selalu saya ingat sebagai sastrawati yang punya kecantikan khusus dalam mengolah kata dan kejujurannya untuk menuliskan hal-hal yang tabu dari sisi lain, sebagai fakta kehidupan sehari-hari. Saya juga mengagumi Dewi yang punya rasa percaya diri ekstra dengan mencetak, mempublikasi, dan memasarkan karya-karya melalui jaringannya sendiri. Mereka begitu pandai, cantik, berani, dan mandiri.
Pesan Nenek
Posted in Kolom , add a commentMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 04 Februari 2002
Ayu kecil hanya mengenal neneknya dari cerita ibunya. Kabarnya, usianya sudah di atas 60 tahun. Sebetulnya, Ayu takut orang yang sangat tua. Mereka keriput dan jika berjalan terbungkuk-bungkuk seperti mau roboh. Ketika mereka meninggal, seisi rumah menggetarkan semua perabotan dengan tangisan. Tangisan mengerikan itu, anehnya, konon karena sayang.
