Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)
Disiplin
Posted in Kolom , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 29 September 2003
Saya mempunyai seorang kerabat yang saya kagumi. Di usianya yang setengah baya, ia telah memegang jabatan yang cukup tinggi di lingkungan Pemerintahan Daerah. Tetapi, kedudukannya itu dirintis dari bawah, dengan kerja keras, tanpa sogok atau suap. Ia pun tidak lantas berkehidupan bak ningrat daerah yang otoriter dan sulit dijamah.
Sebuah Dunia yang Dicoret dari Peta
Posted in Kolom , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin 7 Januari 2002
Seseorang yang matang, konon, adalah seseorang yang telah dapat memetakan seluruh persoalan, apa pun tingkatannya, memperluas dan menimbang serangkaian pilihan, dan merumuskan sebuah pemecahan dengan ekspektasi baik-buruk yang terukur. Lucunya, suatu malam, seorang sahabat perempuan saya, yang telah memiliki semua sarana manusiawi yang secara teoretis seharusnya telah menjadikannya mampu mengatasi setiap persoalan, datang hanya untuk mengerang. Ia mengatakan bahwa semua kemampuannya itu ternyata baru saja menemukan batasnya.
Cobark Hills
Posted in Puisi , 1 comment so far Miranda Risang Ayu
Pikiran Rakyat, Kamis 17 April 2003
Tuhan
aku di sini
berhenti bertanya
berhenti bercerita
berhenti juga
mendengarkan
suara-suara yang bergema
di kedalaman
Diskriminasi Terhadap Laki-laki
Posted in Kolom , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin, 28 Juli 2003
“Bu, apakah pakai seragam SMP menurut standar Depdiknas itu sama dengan pakai celana biru pendek yang hanya menutupi setengah paha?” tanya seorang anak lelaki yang baru berhasil masuk ke sebuah SMP Negeri favorit.
Anak itu salah satu lulusan terbaik sebuah SD Islam, yang sudah hapal di luar kepala makna aurat, termasuk aurat lelaki, dan waktu ketentuan agama itu menjadi wajib. Dengan gelisah anak itu berkata, “Saya suka sekolah di SMP ini.
Menjadi Manusia
Posted in Kolom , 5 commentsMiranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 4 Agustus 2003
Seorang mahasiswa aktivis ISID Siman, di lingkungan Gontor, melayangkan surat kepada saya. Tulisnya, ”… berbicara hari ini adalah berbicara realita bahwa kami, remaja seumuran 23 tahunan ke bawah, bukanlah seorang Agnes Monica, Ananda Nicolas, atau Roger Danuarta … kami juga bukan mahasiswa yang meraih IP 3,8 atau 3,9 dan memperoleh gelar cum laude atau summa cum laude …. “Padahal dikatakannya, dulu, seperti semua anak atau remaja yang baik, ia akrab dengan obsesi untuk ”menjadi orang”. Tidak, tidak harus ”orang” yang eksistensinya menjulang karena rekening bank yang berlimpah, tetapi ”orang” yang telah berprestasi gemilang atau memenangkan peperangan intelektual sehingga pendapat-pendapatnya bersinar laksana mercusuar. Tetapi kemudian, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia merasa terlalu bersahaja untuk semua itu.
