Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)
Sibuk
Posted in Kolom , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 07 Oktober 2002
Fatimah az-Zahra. Semua Muslim tahu bahwa ia adalah anak kesayangan Nabi Muhammad. Namun, tidak ada kisah masyhur tentang dirinya yang tidak berkaitan dengan penderitaan. Ia menyaksikan ayahnya dilempari kotoran unta. Ia menikah dan hidup dalam kemiskinan yang sangat. Setelah ayahnya meninggal, ia harus terlibat dalam sengketa hak atas tanah Fadaq yang kontroversial, sehingga tidak banyak orang Islam yang suka membicarakannya, kendati justru saat itulah tampaknya kali pertama tercatat seorang perempuan Arab tampil di muka umum untuk berdebat dan memperjuangkan haknya.
Sopan Santun
Posted in Kolom , 3 commentsMiranda Risang Ayu
Kolom Resonansi, Republika, Senin 15 September 2003
Sopan santun sesungguhnya adalah suatu tata tingkah laku yang amat populis. Semua orang tahu, memiliki pengalaman mengenainya, dan menyukainya. Mungkin, memang perlu menjadi ahli filsafat etika dulu untuk menjelaskan sopan santun sebagai sebuah konsep nilai. Tetapi, bukankah dipahami atau tidaknya sebuah nilai tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang bisa menerangkan nilai itu sampai mulutnya berbusa-busa?
Biarpun mungkin hanya sedikit orang yang bisa menjabarkan sopan santun itu apa, tetapi hampir semua orang memahami cara berlaku sopan dan santun, atau paling tidak, bagaimana positifnya perasaan yang timbul ketika seseorang diperlakukan dengan sopan lagi santun.
Air Mata Agung
Posted in Kolom , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 12 Agustus 2002
Dalam kultur mana pun, menangis, terutama jika dilakukan oleh orang dewasa, adalah ekspresi negatif yang kurang bisa diterima bila dibandingkan dengan untaian kata yang baik, teratur, dan terjaga. Ancaman stigma anak cengeng menghalangi seorang anak untuk secara impulsif mengutarakan keletihan atau kekecewaannya dengan air mata. Air mata memang selalu dididikkan untuk tidak bernilai umum atau murah. Konon, ada masyarakat etnik tertentu di Amerika Selatan yang bahkan melarang air mata menetes sekali pun dalam upacara kematian sanak-keluarganya.
Doa Perempuan
Posted in Puisi , 4 commentsMiranda Risang Ayu
Allah
Yang Maha Kasih dan Maha Sayang
tolong dengar kata-kataku.
Masih bolehkah kusapa Engkau seperti dulu:
Kekasih?
aku ingat
Kauhadir bersama langit dan bumi,
bersama air, angin, tetumbuhan dan kupu-kupu
dan di hadapan sekuntum bunga yang baru mekar
Kita tersenyum
hingga lenyap bumi lenyap semu
dalam wewangian.
aku ingat
Kauhadir bersama pekat malam
tanpa bulan tanpa perapian tanpa peraduan
dan aku lelap dalam sujud-Mu yang panjang
hingga hadir peri-peri kecil mengetuk pintu mengucapkan salam.
Mengajarkan Mati
Posted in Kolom , 3 commentsMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 19 Agustus 2002
Saya melihat fotonya terpampang di sebuah majalah wanita terbitan Australia, Marie-Claire; perempuan itu tersenyum penuh harga diri di antara kain panjang yang rapat melapisi tubuh, kepala, hingga hampir sebagian wajahnya. Saya kira senyum itu hanya mungkin timbul di wajah seseorang yang demikian yakin bahwa kematian fisik itu hanya akhir dari sakitnya berkubang dalam lumpur cobaan yang bernama hidup. Maka, biar pun suaminya telah mati berkeping-keping bersama mobil berbom yang dengan sengaja ditabrakkannya kepada salah satu gedung pusat teknologi orang-orang –yang mereka yakini– kafir, suaminya itu pada hakikatnya tidak mati. Dengan tegarnya, ia pun memutar video peledakan itu di depan anak-anaknya; untuk mendidik anak-anaknya menjemput kematian dengan baik.
