Telah Terbit, Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(more...)
Cahaya Rumah Kita
Posted in Buku , 2 comments
Cahaya Rumah Kita
Renungan Batin Seorang Ibu Muda tentang Anak, Wanita, dan Keluarga
Penulis: Miranda Risang Ayu
Tahun 1997, 253 halaman, Softcover
Harga Rp. 21.400,00
ISBN: 979-433-133-3
(more…)
Pojok Kanayakan
Posted in Puisi , 2 commentsMiranda Risang Ayu
Pucuk bambu sentuh biru
Tak terbatas di dadaku
Percik air berkeriap
Melembabkan pojok-pojok hati
Terbangkanlah angin
Pucuk daun segar
Ke permukaan danau sunyi
Yang terlindungi dari segala prasangka
Ketulusan hati mengalirlah cepat
dan mewarnai segala hasrat
yang hampir saja memenjara
Langkahku
Kisah Sebuah Lorong
Posted in Kolom , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 18 Maret 2002
Lorong itu letaknya sekitar lima meter di bawah permukaan tanah. Ia menjadi satu serabut saja dari salah satu simpul terbesar pemberhentian bus dan kereta di tengah kota metropolitan itu. Tetapi, ia begitu dicintai pejalan kaki. Ditawarkannya jalan pintas bagi pengguna bus yang datang dari pinggir kota untuk mencapai pusat pendidikan, perkantoran, dan pertokoan tanpa harus menyeberang jalan raya atau rel kereta, hanya dengan modal sepasang sepatu. Hampir tidak ada apa pun di dalamnya, selain lengkung tembok bercat yang menyisakan ruang bagi grafiti. Sebagian tembok itu belum terisi, sedangkan sebagian yang lain dipenuhi lukisan yang memuntahkan isi perut manusia, dan mungkin juga, isi kesadaran sebuah komunitas metropolitan, yang rindu sembari bingung menata diri di tengah semua yang ada atau berlebihan untuk ada.
Sebelum Mengaji
Posted in Puisi , add a commentMiranda Risang Ayu
Sebelum Mengaji
(sapaan gadis kecil kepada adiknya yang sedang belajar mengaji)
Selamat malam, adik sayang
Selamat malam, pepohonan
Selamat malam, peraduan
Selamat malam, Al Qur’an
Jadikan malamku, Tuhan,
tetap benderang
11 September 2002
Posted in Kolom , add a commentMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 16 September 2002
Adakah sesuatu yang sedemikian penting bagi Anda pada 11 September ini? Bagi saya, yang agak khusus hanyalah isi sebuah surat yang saya terima, yang mengumumkan bahwa pada hari itu, orang tua semua murid Daceyville Public School diundang untuk merayakan “hari multikultur”. Selain dianjurkan untuk membawa makanan khas negara masing-masing untuk saling menyuguhi, para orang tua pun akan disuguhi pentas anak-anak.
Anak-anak saya pun tidak muncul di dapur lengkap dengan seragam yang biasanya sudah mereka siapkan dan pakai sendiri. Selama tiga perempat jam, saya mendandani mereka dengan pakaian nasional Indonesia. Untuk kali pertama setelah berbulan-bulan, saya pun meninggalkan rumah dengan piring kotor masih menggunung di tempat cuci dan aneka barang berceceran di meja. Sambil berusaha menghibur diri bahwa, “Sekali-sekali, berantakan itu indah,” saya lupakan perpustakaan untuk sementara dan pergi menghabiskan tidak kurang dari enam jam di sekolah anak-anak.
Beda Api dan Cahaya
Posted in Kolom , 1 comment so farMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 01 April 2002
Suatu hari, seorang anak perempuan yang sedang beranjak besar ingin protes kepada ibunya. Ia sering melihat ibunya berurai air mata ketika bapaknya bersikap terlalu keras kepada perempuan itu. Ketika bapaknya berlaku keras kepadanya dan saudara-saudaranya, ibunya juga hanya menangis saja.
Ia ingat, ketika masih berusia empat tahun dan tidak ada orang yang cukup besar untuk melindungi hatinya dari kenakalan saudara-saudaranya yang lebih besar, perempuan itu bisa membuatnya merasa aman tidak dengan membelanya mati-matian, tetapi dengan mengajarkan keadilan dalam melerai konflik. Tetapi, ibunya sendiri tidak pernah membalas ketika disakiti. Kenapa perempuan itu selalu saja hanya diam, berurai air mata, dan mau menjadi objek dari perlakuan tidak adil?
