Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
11 September 2002
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, 16 September 2002
Adakah sesuatu yang sedemikian penting bagi Anda pada 11 September ini? Bagi saya, yang agak khusus hanyalah isi sebuah surat yang saya terima, yang mengumumkan bahwa pada hari itu, orang tua semua murid Daceyville Public School diundang untuk merayakan “hari multikultur”. Selain dianjurkan untuk membawa makanan khas negara masing-masing untuk saling menyuguhi, para orang tua pun akan disuguhi pentas anak-anak.
Anak-anak saya pun tidak muncul di dapur lengkap dengan seragam yang biasanya sudah mereka siapkan dan pakai sendiri. Selama tiga perempat jam, saya mendandani mereka dengan pakaian nasional Indonesia. Untuk kali pertama setelah berbulan-bulan, saya pun meninggalkan rumah dengan piring kotor masih menggunung di tempat cuci dan aneka barang berceceran di meja. Sambil berusaha menghibur diri bahwa, “Sekali-sekali, berantakan itu indah,” saya lupakan perpustakaan untuk sementara dan pergi menghabiskan tidak kurang dari enam jam di sekolah anak-anak.
Tampaknya, acara itu adalah salah satu acara terbesar sekolah itu dalam semester ini. Gedung sekolah bersolek. Poster-poster tentang seluk-beluk negara-negara di dunia, daftar acara, hingga arah-arah ruangan khusus yang dibuat oleh anak-anak sendiri, memenuhi dinding. Anak-anak pun bebas memilih, bisa memakai pakaian tradisi, pakaian untuk pentas, atau seragam biasa. Apa pun yang mereka pakai, mereka semua akan pentas bersama. Secara tertulis, telah dinyatakan bahwa sekolah tidak merekomendasikan orang-orang tua murid membeli baju khusus.
Tiap kelas mempresentasikan satu seni pentas dari negara dan kawasan etnis yang berbeda-beda. Ada konser musik anak-anak, lagu-lagu bertema persahabatan, hingga lagu masyarakat tradisional Australia dan Selandia Baru. Dengan lapangan terbuka sebagai panggung, tampaknya tidak ada anak yang seratus persen bersih dari kesalahan. Tetapi, hari itu bukan hari untuk tersenyum di atas kekalahan pihak lain, melainkan untuk bergembira bersama dan saling mengenal lebih baik. Jadi, semuanya lucu dan baik-baik saja.
Sorenya, setelah mengatakan kepada anak-anak bahwa semua kembali seperti semula; baju ganti sendiri, lipat sendiri, dan tunggu makan malam dengan kreativitas sendiri, saya tertidur begitu saja, entah di bagian rumah yang centang-perenang sebelah mana. Samar-samar hanya saya biarkan radio ABC Sydney memasuki telinga saya.
Letih, saya tidak sempat tertidur sungguhan. Berita radio sore itu mengabarkan peringatan setahun peledakan gedung World Trade Center. Samar-samar terdengar sesumbar Presiden Amerika Serikat tentang kesabarannya menyikapi Presiden Irak, Saddam Hussein, serta paranoia yang tak terhindarkan ketika sebagian pendengar lantas mempertanyakan, adakah hubungan antara komplikasi sikap Amerika, Saddam Hussein, dan isu terorisme dunia yang menguat pascapeledakan itu? Lucunya, seorang ahli negara berkembang yang diwawancarai oleh radio itu mengemukakan temuannya bahwa beberapa potensi pemberontakan dan terorisme tampaknya justru tengah menguat di kalangan Islam “di luar arena”: di Indonesia dan Filipina. Lalu? Alih-alih memperbaiki nama Islam, seorang aktivis Muslimah Australia yang diwawancarai justru menyatakan bahwa ia pesimistis dengan semua sikap simpatik kepada Islam.
Tanggal 11 September 2002. Ketika ada dua makna hadir, persahabatan, ketulusan hati, keceriaan, tetapi juga keluguan anak-anak, atau kerja sama, perhitungan rasional, kemurungan, serta kecurigaan khas orang-orang dewasa, mana yang akan Anda pilih?

Comments»
no comments yet - be the first?