Buku Baru Miranda Risang Ayu!
Mencari Senyum TuhanCatatan Hati Muslimah Pendamba Rida Allah
Penulis: Miranda Risang Ayu
Penerbit Zaman, Cetakan 1, Tahun 2008
ISBN: 978-979-024-0055-1
Jumlah halaman: 186
(More...)
Perempuan?
Posted in Kolom , trackbackMiranda Risang Ayu
Resonansi, Republika, Senin, 17 Maret 2003
Mungkin saya termasuk orang yang paling setuju sekaligus tercengang membaca buku karya Danielle Crittendend. Buku itu adalah salah satu buku yang telah diterjemahkan secara bagus dan diterbitkan oleh Mizan dengan judul: Perempuan Salah Langkah? Oleh sebuah pusat studi mahasiswa Benih di Universitas Sebelas Maret Surakarta, buku itu lantas dijadikan bahan diskusi dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia pada 8 Maret lalu.
Konsep Crittendend sesungguhnya bersifat family friendly. Ia bahkan menganjurkan agar agenda hidup perempuan di Amerika memasukkan tujuan berkeluarga sebagai prioritas pertama sebelum ia mulai mengembangkan kariernya.
Tetapi, saya juga tercengang membaca konteks masyarakat Amerika yang dituliskannya sebagai latar belakang buku itu. Tampaknya, pendapat-pendapat feminis di Amerika, yang didukung oleh majalah-majalah laris perempuan dan struktur kerja perkantoran di sana, amat dipengaruhi oleh anggapan radikal bahwa bagi perempuan, bekerja adalah pembebasan, perkawinan adalah kekalahan, rumah adalah penjara, dan anak adalah –masya Allah– sejenis parasit.
Saya belum pernah ke Amerika. Tetapi, jika dibandingkan dengan Jepang atau Australia, etos kerja metropolit di sana sedikit banyak memang membuat anggapan seperti itu logis terjadi. Di negara-negara maju, jika batas waktu kerja sudah ditentukan, ia tidak bisa ditawar. Apa pun bentuk “acara keluarga” adalah gangguan terhadap jam kerja. Sanksinya jelas: gaji berkurang, promosi hilang, cemooh berhamburan.
Kenyataan ini diperparah dengan ketidakhadiran keluarga batih. Jika di Indonesia, adik, ibu, atau nenek masih bisa diandalkan untuk sesekali mengganti peran orang tua, di negara-negara maju yang sudah sangat individualistis, mekanisasi dapur tercanggih pun tidak sampai membuat piring lantas terbang mencuci dirinya sendiri atau robot mengasuh anak atau bayi. Padahal, pembantu rumah tangga bergaji selangit.
Ketika mengasuh anak sendiri siang malam, memasak, mencuci piring, mencuci baju, membereskan rumah, lalu bekerja, sudah menjadi beban tak terbagi, logis saja jika seorang ibu kemudian terpojok ke dalam keletihan fisik yang sangat, yang jika tidak dikompensasi dengan penghargaan pasangan atau waktu senggang, berujung pada kelelahan mental.
Maka, jadilah perempuan Amerika menjadi, merujuk Simone de Bavoire, kelompok manusia nomor dua teraniaya, yang dianjurkan untuk skeptis terhadap berbagai bentuk kasih-sayang terlembaga atau termaterialisasi seperti perkawinan atau anak. Perempuan muda lalu didorong untuk mengkritisi naluri ingin menyayangi, yang sesungguhnya adalah bagian dari dirinya sendiri.
Maka, kepada para perumus wacana-wacana itu, sejalan dengan Crettindent, saya ingin mengatakan bahwa jika konsep “menjadi perempuan” adalah menjadi kaum “tak beruntung”, “susah bahagia”, dan “membenci diri” seperti dihasilkan oleh wacana-wacana tadi, lebih baik berhentilah perempuan.
Tidak usah jugalah jadi lelaki. Jadi manusia saja. Manusia yang merindukan nilai kudus melayani orang-orang yang dicintai; manusia yang merindukan kemenangan ketika telah berhasil mendaur sisi baik dari hal-hal yang dirasa sangat buruk dalam berkeluarga, seperti: kelelahan mengurus bayi atau melerai anak-anak yang tengah berkelahi, dan manusia yang selalu ingin belajar mencintai dan dicintai, dalam nama Yang Maha Mengasihi. Jadi, manusia seperti itu bukankah fitrah. Dan menyitir Maslow, manusia seperti itu juga sehat karena sadar kebutuhan dasar jiwanya.

Comments»
no comments yet - be the first?